Category Archives: Reflection

Postpone!! G-Student Story

#eh…

Postpone….

Blog ini sedang tidak aktif dan tidak produktif (sedihnya…)

Alasan apalagi sekarang? -,-

Alasannya….. Alasannya urusan tulis menulis dipindah… uhm…

dipindah… ke dalam proses “creating” something…. (hahaha)

———————————————

 

Baiklah, yuk sembari take a break “creating”, aye cerita sedikit ya (sumber dr salah satu professor di kampus) tentang “Thinking Skill”. Yuks semoga menambah semangat…

 

Begini,

Thinking skill ada tingkatannya =>

Lower order thinking skill => Higher order thinking skill

(Cone of Learning*)

 

 

Lihat cone diatas deh (bukan ice cone loh):

Intinya sih gini, sebagai student jika hanya REMEMBERING maka THINKING SKILL nya low…. (Hanya inget2 materi pelajaran) => celakanya sistem pendidikan yg kita dapat nih banyak mengandalkan skill “remembering” ini. Buanyaaak materi ujiannya, model soalnya hapalan semua. Selesai ujian…lupa deh -,-

 

Jika masuk level pemikiran UNDERSTANDING, maka agak tinggi lah thinking skill nya…

Apalagi yg APPLYING lumayan naik kasta lah thinking skill nya…. (selamat!!!)

 

Yap,

Ini nih 3 posisi teratas dari Thinking Skill:

Analysis, Evaluating, Creating….

 

Nyadar ato tidak orang2 yang jago ANALYSIS dan EVALUATING memang berkategori mempunyai thinking skill yang tinggi (ya iyalah…untuk bisa analysis dan evaluating harus benar-benar sangat memahami (understanding) dan mengerti bagaimana penerapannya (applying)……

 

….apalagi yang telah masuk level CREATING! #WOW…

Creating ‘something’….

 

Bagaimana proses “creating” tuh harus dituntut tahu kebutuhan akan creating tsb,  plus “bahan-bahan” yg harus gunakan untuk creating, dan kontribusi apa yg bisa diberikan dari hasil “creating” tsb, de ..el..el…

(Nah loh puyeng kan baca penjelasanku, hahahaha -,-)

 

Celaka nya, professor ku tsb bilang bahwa sebagai g-student itu HARUS sudah masuk level ANALYSIS, EVALUATING, dan CREATING!

Makanya gak heran g-students di “force” bikin paper-paper, publish…etc dan finalnya adalah bikin THESIS!!! (skripsi, disertasi, etc)

 

Jadi….kalo ada student yg males-malesan bin ogah dan tersiksa bikin yg namanya “CREATING”…. Perlu sangat dipertanyakan status nya sebagai “Student” nya…

 

#plaaaaakkkk

#Berasa ditampar tiba2….

But,

Wait….

I really desire become g-student kok… #eh

 

Ah, sebenarnya aye pribadi gak melulu ributin masalah gelar g-student ato gimana…

Aye pribadi lebih peduli gimana bisa ‘CONTRIBUTING’…

Kita mah hidup sekali….sayang banget gak ngapa-ngapain….

 

Gimana cara kita bisa contributing? Salah satunya adalah dg:

 

CREATING!!!!

 

Creating ‘something’ yang memberikan kontribusi bagi kemajuan….. (titik-titik-isi sendiri sesuai keinginan)

(*hahaha gak usah mulu’2 deh~at least kemajuan bagi diri sendiri =p)

~Creating become nice person, smiling person…. (ato banyak cara-cara sederhana lainnya)

 

Syukur2 bisa berkontribusi bagi kemaslahatan dunia…..

(#Aiiihhhh… maunya 0.0)

 

Jadi gimana nih?

Yuks creating…

I will…you will…we will…

Contributing for the better life ヽ(○´∀`)ノ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

———————————————————————

*The Side-Note:

Ni ceritanya lg take a break nulis-nulis, tp tiba-tiba malah lancar nulis blog! -,-

whats!! 01.00 am-

Saat nya tidur yuk… Jangan sering2 begadang, Rasulullah aja jarang begadang klo gak bnr2 terpaksa , hehe

 

Wan An… Semangat Malam 🙂

#story #studentlife #spam #distraction

———————————————————————–

NB:

*Silahkan dibantah, di opini, di tambahkan… Silahkan komen 😉

*jika salah dan agak error dalam content-isi nya, maklumlah karena nulisnya buat seneng2 (jadi males jg nyari2 teori ‘mendetail’ tentang cone learning, etc). Tulisan ini full pemikiran g-student wanna be yg lagi distraction akut dan nulis buat nyemangatin diri sendiri, hahaha ;D

Advertisements

#WorldHijabDay

…. Ketika suatu saat dunia mengakui ”hijab”  mu,

…. Ketika suatu saat dunia mengakui identitas mu sebagai muslim,

…. Hendak apalagi yang ingin engkau capai?

 

——————————————

Hari ini adalah #World Hijab Day (Ada ya? Baru ngeh juga aku nya…)

Sebuah perjuangan panjang bagi wanita muslimah untuk menggunakan hijab dari dahulu sampai sekarang.  Sebuah perkembangan yang sangat pesat telah terjadi di tanah Indonesia tentang hijab saat ini. Sedangkan di bagian bumi lain khususnya Eropa-Amerika,  banyak muslimah yg masih memperjuangkan hijab mereka agar diakui-diterima…bukan sekedar simbol agama saja…

 

Berbagai opini muncul kala mengobrol dengan teman-teman foreigners non muslim. Ketika mereka menganggap bahwa hijab adalah sebuah budaya.  Ketika hijab adalah sebuah tren pakaian atau pakaian adat saja. Bahkan ada yg menyuruhku berganti baju yg lebih ’sesuai’ untuk  musim panas karena kasihan melihatku…dan lain-lain.

Ada lagi bagian masyarakat  US  yg terjangkit islamophobia dan highly curious terhadap muslim, islam. Takut namun penasaran dengan islam. Temanku yg berasal dari US itu hanya highly curious. Sangat penasaran. Setiap perjumpaan kami  terselip obrolan mengenai islam khususnya tentang hijab.

 

Kenapa kamu pakai hijab? Apa yang membedakan kamu dg org2 yg tidak berhijab? Apakah dengan hijab membedakan kamu sebagai orang baik atau bukan? Bagaimana dg org yg baik tapi tidak menggunakan jilbab? Bagaimana dg org yg berjilbab tapi tidak baik perilakunya?

 

Hingga akhirnya sebuah obrolan ringan bersama kawanku  saat itu membuatku tiba-tiba membuatku ”terhenyak”.

Obrolan panjang kami terhenti dg pertanyaanya yg terakhirnya…

Bagaimana ketika dunia mengakui keberadaan muslimah yang berhijab,

Ketika identitas kalian sebagai muslim diakui oleh dunia,

atau bahkan banyak wanita didunia ini berhijab…

….apa lagi yg akan kalian cari?

….Apa yang akan membedakan antara kalian wanita muslim, satu sama lain?

 

-Aku terdiam….

 

”Allah lah yang mengetahui  ”perbedaan” antara manusia satu dan lainnya”

Sebuah jawaban singkat aku berikan. Entah dia mengerti atau tidak sebuah jawaban mengenai ke-Esa-an Yang Maha Mengetahui hal-hal “terkecil” “tersembunyi” pada tiap-tiap jiwa makhluk-Nya.

 

————————————-

 

Ketika suatu saat dunia mengakui ”hijab” ini…

Ketika suatu saat dunia mengakui identitas kita sebagai muslim…

Apalagi yg hendak kita capai?

Untuk siapa hijab-hijab ini hendak kita persembahkan?

Sebenarnya tujuan apa yang hendak dicapai dari perjuangan panjang  ini?

 

—————————————-

Akhirnya,

Saat diri berikrar untuk berhijab,

Saat raga tertutup oleh hijab itu,

Harapan sejati terdalam, jiwa pun ”berhijab”  pula…

Hingga jiwa dan raga pun menyatu… untuk saling menjaga….saling terjaga….

Menghasilkan sebuah keharmonisan sosok muslimah sesungguhnya…seutuhnya…

Hijab~ Tiada lain tak terkecuali yakni sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.

Hanya kepada-Nya. Cukup.

 

“Hijab is not merely a covering dress, but more importantly it’s manners, speech, behavior, appearance in anywhere…anytime…anything…anyone….we are….

 

(Wallahu a’lam bish-shawabi )

 

Happy Hijab Day, sisters… 

Blank~Gradually increase graphic :)

Karena hidup itu adalah gambaran dari sebuah grafis~gradually increase graphic

 

Lama….

membiarkan blog ini tidak tersentuh….

Lama….

Ketika kebahagiaan yang melalaikan… Kesibukan yang tiada berkesudahan… kesukaran yang kadang melelahkan… terabaikannya kesehatan… dan berbagai jalan-jalan-Nya yang menghiasi hari-hari di bumi yang melaju semakin cepat…

 

Karena kehidupan itu gambaran sebuah “graphic”… terkadang naik dan turun namun trennya tetap “gradually increase” (Yes, absolutely!^^)

 

 

 

Namun,

Sebenarnya tidaklah perlulah alasan-alasan untuk mengabaikan sesuatu~apapun itu…

 

Rasanya,

Diri masih butuh asupan lebih Fiqih Prioritas dan Fiqih Tawazun dlm terciptanya keseimbangan hidup…. lagi, lagi dan lagi…

 

InsyaAllah…

Allah always show the way…

Amin…

 

لا إله إلاّ الله محمّد رسول الله

 

~Home sweet home, menjelang buka puasa:: Ramadhan Mubaraaak :”

(RE-Post) Kesempurnaan Lelah

 

Sebuah kesempurnaan….

Kesempurnaan dari “Lelah”…

———————————

Mungkin, memang sudah seharusnya merasakan apa itu “LELAH”
Hingga suatu titik itulah akhirnya merasakan kerinduan yg dalam…

 

“Kala kita rutin menghamba, kala kita rutin bermunajat dan kala kita rutin melibatkan ALLAH, nanti pada satu masa turunnya iman, ada rindu yang tak bisa dijawab, kecuali dengan mendekat lagi dan terus mendekat pada-Nya.” **

 

Mungkinkah kelelahan hadir karena rindu…
Rindu kepada-Nya,
Rindu dalam dekapan-Nya…
Rindu bersama-Nya.

-wallahu a’lam-

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/puisi-sastra/12/06/04/m2rnxk-lelah-ini-rindu-ini

Teka-Teki Silang Kehidupan…

…..Bagaimana jika hidup kita tertukar?…benarkah hidup kita tertukar…

Jadi bagaimana rasanya jika hidup kita tertukar?

—————————-

Tiada yg lebih mengesankan…..ketika aku kecil selalu mengikuti kakak, kemanapun kakak pergi…. Ketika aku dijahilin teman-teman, kakak datang membela….. Ketika bapak ibu selalu membelikan barang yg identik…. Ketika mengganggu kakak yang tidur nyenyak…

Tiada yang lebih mengesankan…..ketika kita duduk dan bertukar cerita satu sama lain. Obrolan-obrolan ‘spam’ begitu kita menyebut obrolan super ringan sehari-hari, kekonyolan keseharian kita, yang membuat kita tertawa bersama, menghibur…satu sama lain….

Sampai, obrolan serius…. sangat serius… yang berakhir dg titik-titik air di sudut mata-mata…mengesankan, membahagiakan, menyemangati…satu sama lain…

Selalu..selalu…. mengesankan bersama kakak…

———-

Hal yang paling mengesankan dalam hidupku dan kakak adalah ketika “hidup” kami tertukar…. Benarkah itu “hidup” yg tertukar? Begitulah kami menyebutnya… 🙂

 

Masih teringat dibenakku… boneka-boneka masa kecilku penuh guntingan dan jahitan… tiap permainan akulah yang menjadi dokter. Sebuah cita-cita tertanam semakin kuat. Yes, i was born to be doktor…

Kakak, selain bercita-cita menjadi arsitek, kakak mempunyai impian kuat menjadi sosok economist. Sebuah impian yg…serius…

 

Hingga, dunia mahasiswa pun hadir….
Kak, apa yang kita jalani ternyata 180* dari cita-cita, harapan, impian, R-E-N-C-A-N-A  kita berdua ya…

Masih lekat dibenakku, tahun-tahun awal masa perkuliahan bukan hal mudah bagi kita, ya kak…. Jauh-jauh dilubuk hati kakak ingin beralih pergi… Masih lekat diingatanku, ketika airmata terus mengalir selama perjalanan menuju tempat baru ku…. Ah…

 

Duniaku untukmu…duniamu untuk ku…

Kala itu, tidak mudah…. kala semua harapan kita ‘tercabut’ dan ‘tertukar’ satu sama lain….

Dalam diam kita menjalaninya… Mencoba tetap bertahan didera dentingan waktu yang terus bergulir…. Kala kita mulai menyerah… Kita saling menyemangati….untuk tetap bertahan… untuk tetap membangun mimpi dan harapan….

Mungkin kita telah mendustai ketetapan-Nya? mendustai nikmat-Nya?

 

Hingga akhirnya,

Dititik itulah Dia mengajari kita berdua…..

Dimasa-masa itulah hingga akhirnya hati-hati dan azzam diri semakin kuat…. Rentang waktu terus berjalan, mewarnai hari-hari kita menjadi begitu berkesan…. lebih berkesan dan semakin berkesan….

 

Kini, diriku mencoba mengarungi lebih jauh di lautan ekonomi-bisnis. Kakak, menyelami dalam samudra ilmu medical…  Menyelam dan terus menyelam hingga tampaklah keindahan pada dasarnya…

 

Boleh jadi hidup kita tertukar atau apalah itu…

Dititik itulah, Dia menunjukkan kuasa-Nya…. Dia menunjukkan kasih sayang-Nya… InsyaAllah tidak ada lagi keraguan dalam diri kita…. Karena, inilah salah satu tanda-tanda kebesaran-Nya…

 

Kini, inilah kehidupan sebenar-benarnya…

Hingga aku terus melangkah diri sampai  disini….Kakak, terus menapakkan kaki…. Melangkah dan merentangkan tangan menggandeng sesama….

 

Dan,

Kekuasaan-Nya lah menyatukan rencana kita… Dalam dua jasad berbeda…

[Eh, mungkinkah kita satu jiwa di dua jasad berbeda? Hahahaha,  teori yg super ngawur deh ya… -_-]

 

Dan,

Ada saatnya hidup perlu sentuhan fluktuatif, untuk dapat merasakan indahnya  keselarasan, keseimbangan, dinamika kehidupan…

 

Hingga bulir-bulir kehidupan masih terus bergulir…. Masih banyak sejumlah teka-teki kehidupan yang belum terpecahkan….

 

Terus dan akan terus terjadi hingga sampai pada sebuah teka-teki terbesar mengenai akhir hidup ini terjawab…. akhir muara kehidupan ini…. meraih keRidhoan-Nya….

 

Siapkah dirimu kak? InsyaAllah siap grak lah ya….

Ingat mantra

man purposes Allah SWT disposes” -Manusia berencana, Allah SWT yang menentukan…

 

(Wallahu a’lam)

——————————–

 

Selamat Milad Kakak-ku sayang …..

Berkah barokah- Nya selalu untukmu….untuk kita… untuk seluruh makhluk yg berdzikir kepada-Nya

Alhamdulilah- Thankfulness never dies… 🙂

(Taipei, May 25 2012)

 

———————————

The Side*Note:

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah:216)

 

Jangan ratapi kekuranganmu, boleh jadi dia menjadi sebab berkurangnya dosa-dosamu, disaat banyak orang berlumuran dosa karena kelebihannya.

Jangan sesali keterhalanganmu, boleh jadi dia menjadi sebab terhalangnya bencana menimpamu, disaat banyak orang tertimpa musibah dengan kebebasannya.

Jangan musuhi keterbatasanmu, boleh jadi justeru dia yang membatasimu dari sikap tercela. Disaat banyak orang menjadi tercela karena berbagai fasilitas yang dimilikinya.

(Abdullah Haidir from Riyadh)

———————————-

*Copyright foto diatas silahkan klik difoto 🙂

Budaya vs Ibadah

Ketika sebuah tatanan ibadah hanya didasarkan sebuah kebudayaan…sebuah kebiasaan…yang hendak sulit ditinggalkan…

————————————————————

 

Ketika dunia memuja budaya…

Bukan berarti beribadah sesuai kebiasaan atau budaya…

Bukan pula dunia yg mengatur bagaimana sebuah tatanan ibadah…

Tapi ibadahlahlah yg hendaknya mengatur dunia…

 

Tidaklah melaksanakan peribadahan apapun tanpa dasar…

Dasar apalagi yg hendak digunakan?

Tatanan apalagi yg hendak dipegang?

Haruskah tatanan ibadah disesuaikan dg budaya?

Haruskah tatanan ibadah disesuaikan dg kebiasaan nenek moyang?

Nenek moyang siapa yg menjadi panutan?

 

Bukankah semua amal dan ibadah ada ilmunya?

Bagaimana jika beribadah tanpa dasar…tanpa pondasi…

Hendak kemanakah arah tujuan yang hendak dicapai…

Cukuplah jelas Al-Qur’an danAl-Hadist menjadi petunjuk…

Hendak apalagi yg terbantahkan?

 

Lagi, karena…

Hidup untuk saling mengingatkan…

Saling menasihati satu sama lain…

Dengan cara-cara yg baik… untuk menghasilkan kebaikan…

Dengan harapan beriringan bersama…berjamaah…

semakin dan semakin mendekat kepada-Nya…

Menjadi sebenar-benarnya umat Rasullullah SAW…

 

Akhirnya,

Hanya Allah SWT lah yang memberikan petunjuk kepada hati tiap-tiap hamba-Nya…

Hanya Allah SWT lah yang mengetahui niat (tersembunyi) tiap-tiap hamba-Nya…

 

-wallahu a’lam-

——————————–

The Side*Note:

“Barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia menaati Allah.” (Q.S. An Nisa; 80)

—————-

“Dan tidaklah ada pilihan bagi seorang mukmin atau mukminah jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara pada urusan mereka.” (Q.S Al-Ahzab: 36)

—————-

“Demi masa……..Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian……kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Q.S. Al Ashr; 1-3)

——————

Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka dia bukan golonganku.” (HR. Bukhari)

———

“Aku tinggalkan ditengah-tengah kamu dua perkara, kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu: kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dan Hakim -dishasihkan Al-Albani)

———

“Sesungguhnya barangsiapa diantara kamu hidup sesudahku maka ia akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka kamu wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa` Rasyidun sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 2549)

———

Adam (dan Hawa)

Adam (dan Hawa)*

Apakah engkau juga mencariku? sama seperti aku mencarimu? kenapa kita harus saling mencari? adakah yang salah diantara kita? Apakah kita sedang dalam ujian-Nya?

——————————————–

 

Bagaimana  kabar Ayah pagi hari ini?

Pagi ini, Aku sangat ingin menyapamu, menanyakan kabarmu, menanyakan rencana Ayah hari ini, Apakah Ayah sudah sarapan? Apakah Ayah sehat? Apakah Ayah baik-baik? Ah, kenapa aku terus bertanya dan selalu ingin tahu tentang keadaanmu, Ayah?

 

Ayah,

Aku masih belum bertemu denganmu.Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seseorang. Aku merasa dia adalah engkau. Ternyata dia bukanlah engkau. Hingga seseorang datang. Entahlah, hati kecilku mengatakan dia bukan dirimu.

 

Ayah, dimanakah engkau berada?

Ayah, apakah engkau juga mencariku? sama seperti aku mencarimu?

Ayah, kenapa kita harus saling mencari?

Ayah, kenapa ini seperti kisah Adam dan Hawa?

Ayah, adakah yang salah diantara kita? Apakah kita sedang dalam ujian-Nya?

 

Ayah,

Apakah karena dosa-dosa kita?

Apakah karena kita sudah melupakan-Nya?

Apakah karena kita tidak menghadirkan Dia dalam tiap waktu kita?

Apakah kita memang belum pantas untuk saling bertemu?

Ayah, apakah Ayah tahu jawabannya?

 

Ayah,

Pagi ini aku kembali merindukanmu. Perasaan rindu ini tidak seharusnya hadir sekarang. Mungkinkah Dia benar-benar hendak mengujiku, akankah aku memikirkanmu seorang atau aku tetap menjaga hatiku untuk-Nya?

 

Ayah,

Aku menyembunyikan perasaan rindu ini dalam diri. Aku menumpahkan perasaan rindu ini dalam malam-malam sunyi, dalam kepasrahan sujudku, dalam linangan airmata doaku.

 

Ayah,

Maafkan aku. Mungkin, karena dosa-dosaku kita masih terhalang untuk bertemu. Mungkin, aku memang belum pantas untuk bertemu denganmu.

 

Ayah,

Aku baru menyadari ternyata aku memang belum pantas.

Aku terlalu sibuk mencarimu. Tapi, aku tidak melihat diriku sendiri.

Aku terlalu sibuk memantaskan diri untukmu, hanya untuk dunia.

Aku masih terlalu meng’hamba’ kepada makhluk ciptaan-Nya, meng’hamba’ kepada dunia ciptaan-Nya, bukan benar-benar kepada-Nya, kepada Sang Rabb.

 

Sekarang,

Pagi ini dan pagi berikutnya aku memutuskan untuk tidak mencarimu lagi.

Aku akan memurnikan niatku untuk bertemu denganmu.

Aku akan mempersiapkan diriku sebaik-baiknya.

Aku akan berusaha untuk benar-benar menjadi hamba yang ’pantas’ dihadapan-Nya.

 

Ayah,

Aku tahu dan engkau pun tahu,

Nama kita berdua telah ditulis di Lauh Mahfudz-Nya.

Seperti Adam dan Hawa, kita sudah ditakdirkan untuk bertemu.

Kelak (entah) bertemu di dunia atau di akhirat.

 

Ayah,

Bersabarlah, hingga akhirnya Dia mengijinkan kita untuk saling bertemu.

Bertemu dan bersatu untuk lebih dan lebih menghamba kepada-Nya.

Bertemu dan bersatu untuk saling melengkapi perjalanan meraih mahabbah cinta-Nya.

 

Ayah,

Semoga kelak ketika Dia mempertemukan kita,

Kita berada dalam kerinduan yang fitri,

Keistiqomahan menjaga diri,

Dalam ikatan suci yang bernaung doa dari para malaikat-Nya,

Dalam limpahan keberkahan dan kebarokahan-Nya.

 

Ayah, Mohonkan doa untuk kita, untuk masa depan keluarga kita, untuk keturunan kita kelak.

 

Selamat pagi Ayah,

Doaku menyertaimu selalu wahai (calon) Ayah anak-anakku.

 

Salam,

(Calon) Bunda anak-anakmu

—————————————————————–

 

*Dikutip dari: Zaheera Z. (Adam (dan Hawa))