PPI-Para Pencari Ilmu

The seeking of knowledge is obligatory for every Muslim, male or female.” (Prophet Muhammad SAW)

 

——————————————–

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia
mencari ilmu,
maka Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah,

dan
sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk
penuntut ilmu,

dan
sesungguhnya
seorang penuntut ilmu
akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya.

Dan
sesungguhnya keutamaan
seorang yang berilmu
atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang,

dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah

mewariskan ilmu,

maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.”

 

*(HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy no.2683)

————————————————————————–

 

**Dipost dalam rangka menyemangati diri sendiri (dan mungkin rekan-rekan lain) yg sedang malas dan futur  dalam “meng upgrade +men service  ilmu nya”  ;|

…the clock is counting down…the seconds tick away…

Semangat! 加油… 加油 ^^

 

———————————————————————————————————————-

The sides*note:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (QS. Al-Alaq; 1)

 

The seeking of knowledge is obligatory for every Muslim, male or female.” (Prophet Muhammad SAW)

 

Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar……

Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan……

Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang kau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu.” (Imam Hasan al-Bashri)*

*Fiqih Prioritas -Dr. Yusuf Al Qardhawy

(Kesempurnaan) Lelah…

… mungkin, memang harus merasakan apa itu LELAH,

… hingga suatu titik itulah akhirnya menemukan kerinduan yg dalam,

… Kerinduan untuk kembali kepada pelukan-Nya.

——————::—————

Bolehkah aku bersedih…

Bolehkah aku ‘pergi’sejenak…

Bolehkah aku ‘lari’ menjadi pecundang…

Mungkinkah aku pendusta nikmat?

 

Jika boleh aku ingin bersedih…

Jika boleh aku ingin pergi sejenak…

Mungkin aku lah pendusta nikmat, tapi sungguh aku bukanlah pecundang…

 

Aku mulai lelah mengejar matahari…

Aku mulai lelah mengejar waktu…

Aku mulai lelah ketika harus bergegas kembali ke dunia…

Setiap saat…setiap hari…

 

Kini,

Mengapa menjadi budak… budak pekerjaan… budak masa… budak waktu…

Jadi, sebenarnya untuk apa semua ini?

 

Sudah sampai manakah perjuanganku? Ketika memang perjuangan ku tidak mungkin dibandingkan Rasul-Mu, sahabat-sahabat Rasul-Mu, wanita-wanita tangguh dan mulia pilihan-Mu, ataupun orang-orang yang teguh di jalan-Mu…

Masih pantaskah aku mengatakan, aku lelah?

Sungguh aku malu…

———————————-::—————————–

Jadi,

Apa yang telah kita lakukan?

Pernahkan merasa sangat LELAH… merasakan semua “tidak bermakna”?

 

Ingatkah,

Ketika kita bersekolah bertahun-tahun. Jatuh bangun kita LELAH  belajar agar lulus sekolah dan mendapatkan ijazah.

Ingatkah, saat itu kita melupakan semua rasa lelah selama bersekolah dengan kebahagian karena lulus sekolah

 

Sekarang,

Kita dihadapkan pada pekerjaan, kantor, sekolah, keluarga, rekan, teman, anak…..HIDUP….

 

Dulu, sekarang, atau nanti…kita dihadapkan dengan rasa LELAH menjalani itu semua.

Hingga nanti pada kelulusan kelak (kematian.red), Akankah kita dapat membayar rasa lelah kita dg kebahagian* karena telah “lulus” dari sekolah kehidupan? (*khusnul khotimah.red)

 

Sekarang,

Berapa banyak orang yg sedang menderita “kelelahan”?

Berapa banyak yg akhirnya “berhenti” dan memilih “mati” di hidupnya?

Berapa banyak yg bisa “melanjutkan langkah” dalam naungan-Nya?

 

Sudahkah kita melibatkan-Nya dalam setiap langkah?

Kenapa harus merasa kelelahan jika telah melibatkan-Nya?

 

Sadarkah? Bahwa lelah hadir karena kita MELANGKAH SENDIRI…. tidak melibatkan-Nya…

 

Mungkin, memang sudah seharusnya merasakan apa itu “LELAH”

Hingga suatu titik itulah akhirnya merasakan kerinduan yg dalam…

 

“Kala kita rutin menghamba, kala kita rutin bermunajat dan kala kita rutin melibatkan ALLAH, nanti pada satu masa turunnya iman, ada rindu yang tak bisa dijawab, kecuali dengan mendekat lagi dan terus mendekat pada-Nya” **

 

Mungkinkah kelelahan hadir karena rindu…

Rindu kepada-Nya,

Rindu dalam dekapan-Nya…

Rindu bersama-Nya

 

-Wallahu ‘alam-

——————————-::::—————————

The sides*note:

“Ketahuilah hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenang” (Q.S Al-Raad : 28)

 

“Ya muqallib al-qulub, thabbit qalbi ‘ala dinik. Ya muqallib al-qulub, thabbit ‘ala’l-haqq. Ya muqallib al-qulub, thabbit qalbi ‘ala ta’atik”
Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas agama-Mu, tetapkan hati ini di atas kebenaran-Mu, tetapkan hati ini dgn taat pada-Mu
. (Doa Rasullullah SAW)

 

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya,  JIKA kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imron:139)

 

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman:13)

 

[http://www.youtube.com/watch?v=AY5LZopqyio]

**Kutipan dari  trp-kesempurnaan-aqidah-dan-cinta

Hanya aku dan Ayah :)

http://www.google.com/imgres?um=1&hl=en&sa=N&biw=1024&bih=510&tbm=isch&tbnid=RNxPHjIjbYhVaM:&imgrefurl=http://ajlevan.theworldrace.org/%3Ffilename%3Ddaddys-little-girl&docid=BW2ObqwLK3oNcM&imgurl=http://ajlevan.theworldrace.org/blogphotos/theworldrace/ajlevan/daddys-little-girl.jpg&w=333&h=500&ei=iFWHT6DMA4aOmQWitInABw&zoom=1&iact=hc&vpx=102&vpy=130&dur=409&hovh=267&hovw=178&tx=75&ty=228&sig=108315346126350139542&page=1&tbnh=135&tbnw=91&start=0&ndsp=12&ved=1t:429,r:6,s:0,i:96

 

Ayah,

Bagaimana kabar Ayah hari ini?

Ayah, sudah lama kita tidak bercerita bersama…Yuk kita bercerita…

 

Ayah,

Aku kecil suka sekali ketika ayah membelikan kue coklat bulat, -dorayaki- begitu kita menyebutnya… Kita penggemar Doraemon ya Ayah…

 

Ayah,

Ketika selesai solat berjamaah dan engkau bersiap memberikan ‘kultum’,  dan aku kecil bermalas-malasan…Ayah, jangan lama-lama, lapar….

 

Ayah,

Aku selalu menanti kedatangan Ayah dari luar kota, ketika Ayah selalu membelikan boneka baru meskipun boneka-boneka tersebut rusak ditanganku… dengan bangga aku kecil berujar, “Ayah lihat bonekanya aku operasi, aku dokter hebat kan…

 

Ayah…

Ingatkah ketika aku ingin sepatu roda. Teman-temanku punya semua. Ayah, aku juga mau… Tapi engkau menjawab dengan ‘sangat’ santai, “Pinjam saja ke temanmu, beli hal-hal yg lebih penting…” Ayah, mungkin aku kecil sedih tapi itukah cara Ayah mengajari agar hidup sederhana?

 

Ayah, kenapa dulu genteng rumah selalu bocor?

Ayah, aku kecil suka sekali berada diatas atap rumah  kaki-kakikulah yg menyebabkan genteng dirumah bocor, jadi bukan karena genteng rumah kita sudah tua seperti yang Ayah kira…

 

Ayah, tahukah dimana tempat favoritku?

Ayah, aku suka sekali berada diatas atap rumah; duduk, membaca, mengajak teman-teman ‘berkemah’ sambil menikmati manisnya buah mangga… Ayah, aku suka melihat langit sore, melihat  burung-burung ketika mulai kembali ke sarangnya, menikmati semilir angin, semuanya menyenangkan jika di atas atap, Ayah. Aku baru turun ketika Ayah memanggil namaku, Ayah mencariku…

 

Ayah, coba tebak kenapa dulu ikan-ikan dikolam mati semua?

Apakah Ayah tahu?

Ayah tahu aku suka sekali menyantap tahu goreng buatan Ibu. Aku ingin ikan-ikan juga merasakan tahu goreng enak itu. Esoknya, ikan-ikan itu mati…Ayah, ternyata ikan tidak suka tahu goreng…

 

Ayah,

Ketika itu engkau duduk. Ayah sedang bersedih? Aku kecil datang menghampiri Ayah, dan memanggilku seolah tidak ada apa-apa… Ayah berusaha kuat. Ayah, Tidak bisakah Ayah menangis seperti saat aku menangis digigit semut… Apakah laki-laki tidak boleh menangis?

 

Ayah,

Mungkin saat itu Ayah sedang lelah atau aku kecil terlalu nakal? Ketika Ayah mulai meninggikan suara, aku takut Ayah…

 

Ayah,

Aku kecil senang ketika ayah membelikan sepeda mini roda tiga. Ayah, aku protes ketika Ayah mulai melepas satu persatu roda sepedaku jadi roda dua. Ayah, aku takut jatuh… Tapi Ayah mengajariku, menjaga agar sepedaku tidak jatuh, eh tetap  saja aku jatuh… ternyata aku kecil bisa, dan naik sepeda roda dua lebih enak ya…

 

Ayah,

Selalu menggosok-gosok lembut rambutku… Ayah benar-benar sayang aku ya dan tidak lupa Ayah juga jadi tahu jika aku belum keramas…

Ayah, menyenangkan sekali aku kecil bersama Ayah…

 

Ayah,

Ketika mulai remaja, entahlah…

Kenapa Ayah tidak lagi mengasyikkan seperti saat aku kecil?

Ayah menegurku ketika aku pulang hampir malam tiba… Kenapa Ayah menjadi lebih sering ‘memarahi’ aku? Ayah memberikan nasihat atau memarahiku? Sepertinya tidak ada bedanya… Inikah cara Ayah menjaga aku di masa remaja ku?

 

Ayah,

Aku mulai pindah dan menetap di kota lain.

Aku agak berjauhan dari Ayah, aku mulai jarang pulang, kita jarang bercerita

Saat itu Ayah suka menanyakan kapan aku libur, kapan aku pulang…

Kini, aku semakin jauh dari Ayah,

tapi Ayah tidak lagi menanyakan kapan aku libur, kapan aku pulang..

Apakah Ayah takut menggangguku?

Apakah Ayah rindu aku?

 

*Bipp…(sms singkat)  “Ulil, i miss you 🙂 ”

 

Ayah, merindukan aku, Ah….baru kali ini Ayah bilang i miss you…

Ayah,  i miss you too…

 

Salam sayang

Your little girl 🙂

 

=================================================

 

Ayah, selalu mempunyai berbagai macam cara untuk ‘melindungi’ dan mengungkapkan rasa sayang kepada anak-anaknya, terutama anak perempuannya…

Bukankah begitu, para Ayah (atau calon Ayah)? :”)

 

——————————————————-

Rasulullah SAW bersabda : “ Orang yang paling baik di kalangan kamu adalah orang yang paling baik kepada keluarganya dan sayalah yang paling baik kepada keluarga saya “ (HR. Ibnu Majah-Al Hakim)

 

Didiklah anak-anakmu dengan pendidikan yang baik karena hal itu adalah tanggung jawabmu (kepala rumah tangga). Sementara kelak bila anak-anakmu dewasa kan bertanggung jawab dan berbuat baik padamu) (Umar bin Khatab)

Pada 7 tahun pertama, perlakukan anak sebagai raja. Pada 7 tahun kedua, perlakukan anak sebagai tawanan perang. Pada 7 tahun ketiga, perlakukan anak sebagai sahabat.” (Ali bin Abi Thalib ra)